Rabu, 18 Desember 2019

Asupan Kata Tanpa Rasa

~Puisi~

Pernah aku mencoba mencicipi kembali itu manisnya mencintai...
Lagi-lagi rasanya sakit di hati..
Ternyata mencintai tak senikmat hitamnya kopi...

Pernah pula aku menikmati kembali apa itu mencintai sendiri...
Lagi-lagi rasanya perih di hati...
Ternyata mencintai sendiri tak senikmat makan roti di pagi hari...

Pernah pula aku mencoba menikmati berdrama di dunia ini dengan senyum di tiap hari...
Lagi-lagi menyesakkan hati...
Ternyata pura-pura bahagia tak senikmat makan nasi dengan indomie...



Karya  : Rein
(Anggota Persma RI)

Post By : Tasel

Peran Usang

~Puisi~

Tulisan adalah sebuah perasaan atau keinginan seseorang...
Yang bisa jadi perantara atas doa yang tak terutara oleh kata...
Dari Seseorang yang berdiri di tempat paling sunyi malam itu...
Ku tuliskan harapan pada secarik kertas
Ku goreskan perlahan lahan...
Penaku menari nari di atasnya...
Persis sama dengan hembusan angin...
Tidak banyak kata yang dapat ku tulis..
Semoga kelak kita dapat bersama...
Aku menjadi yang terakhir untukmu...
Dan kamu menjadi yang terakhir untukku...


Karya : Nesi pratama
(Anggota Persma RI) 

Post By  :  Tasel

Selasa, 17 Desember 2019

Sebentar Saja

~Puisi~

Jiwa terkubur di bumi,
Berotasi dalam gelapnya malam
Estetika manusia jadi syukur

Yang terlampau indah membaur___
‘Saat matanya ikhlaskan pedih’
‘Saat langkahnya rindukan kasih’
‘Saat bibrinya tak pernah merintih’
‘Saat raganya tak pernah risih’

Kekuatannya adalah hiburan___
‘Untuk setiap hati yang pedih’
‘Untuk setiap hari yang perih’
‘Untuk semua yang pernah ada’
‘Dan untuk semua yang telah tiada’

Semangat, berteman dengan semesta
Yang selalu bisa menumpahkan bahagia...

Kepada manusia yang siap menerima duka...


Karya :  Bunga Tunas
(Anggota PERSMA RI) 

17 Desember 2019~

Post By :  Tasel

Ilusi Malam Sunyi

~Puisi~

Sunyi berdesih...
Kala malam datang dengan kesunyian
Kutanyakan pada lubuk hati yang terdalam...
Kucari makna kata ketikan yang bermakna untuk di cerna...

Kata mengikat kalbu...
Mencari sebuah rahasia dibalik kata-kata mu..

Ketika mataku mulai sayuu..
Ku mulai berfikir arti dari sebuah cerita kata...

Adakah yang kurindu saat ini...?
Tak kusanka kau berkeliaran dalam benakku
Dan kini kau mencuri kalbu...

Katakan jangan dipendam
Selamat berjuang.

Karya : Megi
(Anggota Persma RI) 

17 Desember 2019~`

Post By  :  Tasel

Minggu, 13 Oktober 2019

Sebentar Saja Mengaku


Karya : Bunga Yunas
(Crew UKM Persma RI) 

Teman. hutan belantara, kupu-kupu berwarna...
Tak seorangpun tahu duka, sebenarnya luka...
Lika-liku jalan setapak kecil menakutkan...

Keluar. Jalan bergandengan, pegang erat, tak lepas...
Beribu canda terbuang, dimasukan dalam karung, dibuang jauh-jauh, bermuara di jurang....

Manusia ingin selalu ditepuk tangani...
Wara-wiri duniawi sesat berduri...
Matikan segala tindak kebaikan dalam sekali kecupan...


13 Oktober 2019~`

Post By                 : Tasel
Diterbitkan Oleh : UKM Persma RI

Menunggu Rindu~


Karya : Satia Andani
(Crew Persma RI) 
Kemarin...
Saat ku berdiri diujung temaram nya senja...
Tersingkap sepasang manik menatapku sendu...
Terukir senyum getir dari bibir itu...
Sadar akan adanya raga terpisah jarak dan waktu...

Sekarang...
Kita sudah sering menanam rindu...
Merengkuh malam mengharap temu...
Ku kirimkan Cinta suciku bersama hembusan angin teduh...
Untuk bekal tidurmu dalam dekapan kasih membelai jiwamu...
Dan

Besok...
Kuharap aku dan kamu...
Tak akan terhalang oleh ruang dan waktu...
Merasakan manisnya hasil dari lamanya menunggu...


13 Oktober 2019 ~

Post By                   : Tasel
Diterbitkan Oleh  : UKM Persma RI

Semesta Tanpa Pesan


Karya : Megi Riyan Mahmudi
(Crew Persma RI) 

Malam syahdu sepi mengiringi...
Getar suara membisik direlung hati...
Hati sepi bagai ruang hampa...
Buat Jiwa raga akan tak berdaya...

Bila esok pagi kau terbangun...
Lihatlah bukumu..basah
Itu bukanlah embun...
Itu air mataku yang tertetes ...
Karena kau..
Telah bersamanya...

Yang kurasa ada getar hati dalam jiwaa...
Tapi kau tak merasa...
Hati sakit lebur membara..
Akan tetapi luka ini bukan derita...


Merelakan engkau dengan nya..
Adalah keputusan ku yang penuh derita...
Melupakan mu walau  tak bisaa...
Adalah pilihanku semata...tak berdaya...
Hati berbisik pada jiwa raga...
dan berkata...
Sampai jumpa...
Nikmati malam derita..

13 Oktober 2019~`


Post By                  : Tasel
Diterbitkan Oleh : UKM Persma RI

Rabu, 09 Oktober 2019

Aku

Karya : Laila
(Crew Persma RI)

Aku hanyalah sosok semu...
Diantara jutaan cahaya...
Ada namun terasa ambigu...

Seolah tiada celah tuk menerpa...
Mengumandangkan sebuah aspirasi...
Terhalang oleh jajaran berseragam...

Aku adalah serpihan...
Terbuang, terasingkan...
Aku Sadar siapa aku...
Yang tidak mungkin mengubah keadaan...
Namun aku percaya...
Akan ada jawaban dari sebuah pengharapan...



Post by                  : Tasel
Diterbitkan Oleh : UKM Persma RI

Minggu, 06 Oktober 2019

Baru


Karya : Meliniar
(Anggota Persma RI) 

Baru saja pagi ini memulai hari...
Baru saja aku teringat untuk mewujudkan mimpi...
Tapi, baru saja ingat. Hey sadar kamu belum punya amunisi...!
Semua rongga jaring tidak akan mampu menangkap semua kesuksesan...
Tidak semua jembatan akan mampu membantu menyeberangi kegagalan..
Tenggelam dalam kegagalan bukan berarti tidak akan selamat...
Mari kita ingat, masih ada amunisi penyelamat...


Post by : Tasel

Ujung Rindu


Karya : Elok Furoidah
Di terbitkan oleh : Persma RI

Tunggu lah sebentar...
Aku hanya pergi sewindu..
Bukan karena ingin melupakan kampung halamanku...
Tapi cita-cita lah yg menuntut ku...
Kita kan berjumpa di akhir tahun yg melelahkan...
Semoga kau tak berubah...
Tetap indah dan lantang...
Berdiri lah tegap menjulang indah seminungku..



Editor : Tasel

Pabrik Tua


Cerpen Karangan : Ludfi Shofiatul Alia
(Anggota Ukm Persma RI) 

Hari ini adalah hari yang paling indah dalam sejarah hidupku...
Dimana perut dan mulutku tak henti untuk menguyah makanan gratis yang kudapat dari  beberapa sahabatku...
Dari sahabat ku yang ulang tahun , menang lomba , dan yang baru saja jadian...
Dan pada hari ini sekoalah ku free menjelang ulangan sekolah  yang akan di laksanakan senin besok...
Menurutku yang paling banyak menelaktirku  sahabat yang baru jadian...
Mungkin karena itu cinta pertamanya jadi sangatlah spesial dan dia juga anak orang kaya...

Jadi waktu dia bilang makan sepuasnya aku tak segan untuk makan sebanyak mungkin sampai sampai aku tak bisa berdiri... Wkwkwk...
Sunset yang indah kunikmati saat melangkah akan pulang kerumah kupegangi perutku layaknya orang sedang bunting 7 bulan...
Ketika diriku ini melawati sebuah pabrik tua yang lama di tutup...

Timbulah rencana yang sudah lama ku pendam bersama sahabatku dan baru sekarang aku akan mengutarakanya...
Dimana aku harus melanggar  petuah dari para sesepuh warga sekitar...
Bawasanya disana banyak penunggunya dan sekarang akan aku patahkan mitos itu jika memang tak ada hantu yang berintraksi ria didalam pabrik tersebut kepada sahabatku yang telah lebih dulu memeriksa pabrik tua itu....

“ apa-apaan dengan orang-orang sekitar sini  masa takut sama  setan , takut itu sama Allah . kalo pun takut dengan setan baca ayat kursi aja, kelarkan.” Aku pun berjalan masuk kedalam pabrik yang sudah lama menggugah rasa penasaranku seraya   mengusap hidung dengan gaya bruce leee... Hehe.

“ sudah kuduga bawasanya di dalam sini tidak ada apa-apa , hanya banyak mesin usam yang sudah tua “ langkahku berhenti saat mendengar gelak tawa di lantai atas pabrik yang membuat bulu ketek tegang dan kringat sebesar jagung bercucuran .tapi aku berusaha untuk berpikiran positif dan mencari sumber tawa tersebut yang terletak di gedung atas , yang di iringi dengan mulutku yang komat kamit membaca ayat kursi.
Blebettt........

“ya Allah , tadi itu apa bayangan putih melayang tanpa dosa di blakangku? “ Tanya ku yang kini tengah di banjiri akan rasa takut yang keterlaluan dan pantas mendapat lebel sebagai lelaki yang pecundang....
“ hihihihihi” tawa sangat nyaring kini terdengar jelas di belakangku , tawa tersebut tak asing lagi kudengar saat menoton serial film horor....

“ya ga salah lagi ini sepertinya mbak-mbak ber baju putih yang selalu berkeliaran di film horor “ dugaanku terhenti ketika semua mata pandanganku telihat buram dan gelap rasanya seperti akan menjelang sakaratul maut.

“blukkk” suara tubuhku yang terjatuh karena pingsan setelah mendengar suara tawa yang kuduga sebagai kuntilanak...
Aroma terapi menusuk hidungku yang kemudian membuatku terbangun dari frist pingsan ku ,  pincingan mata ku  untuk  melihat keaadaan sekitar nyaman dan tentram atau tidak , terliahat di sudut ruangan yang tak asing lagi yaitu kamarku berdirilah mantri desaku dan orang tua ku serta ketiga temanku yaitu suparjo , sudimin dan susanto...
Tengah menunggu bangun dan mantri yang memeriksaku dan setelah mendengar penjelasan dari mantri bawasanya diriku mengalami trauma, akibatnya aku  tak sadarkan diri  dan membuat badanku menjadi panas...

Orang tua ku mengatar mantri kedapan setelah menerima obat dan melakukan pemeriksaan terhadapku...
Tersisa ketiga sahabat ku yang masih  menertawakanku dengan kemampunya dan berbincang bincang tak jelas saat kudengar mungkin akibat dari pingsan membuat gangguan di panca indara ku termasuk pendenagarku ini...

“kenapa sikunyuk ini lemah sekali baru awal permainan sudah game over “ ucap suparjo yang membuatku mengurungkan niat untuk membuka  dan berdalih untuk mendengar lebih lanjut dari ucapan suparjo....
“sudah lah ini salah kita, jugaan kenapa kita harus menjadikan kunyuk sebagai bahan uji coba permainan uji nyali di pabrik tua itu , sudah tau dia itu sangat lah penakut dan tak mempunyai nyali sama sekali dan lemah “ ujar sudimin yang kini mencoba menambah aroma terapinya yang kurasa sudah memenuhi lubang hidung.

“sebaiknya kita tidak lagi meneruskan permainan uji nyali lagi yang membut sikunyuk ini menjadi pingsan , lihat saja dia pingsan saja masih dengan gaya so cool nya dan sepertinya sikunyuk ini menganut faham biar pun lemah dan penakut tetaplah sombong “  saran susanto yang masih mengejeku juga...
“khukk” suara batuk yang kutimbulkan untuk memberhentikan percakapan diantara sahabat sahabat ku ini menimbulkan banyak pertanyaan yang menumpuk.

“ nyuk , udah bangun juga kamu ? girang susanto yang sedari tadi mengompresi keningku dengan handuku.
“ahh tidak sebenarnya aku sesudah bangun sejak ada aroma terapi masuk kedalam hidungku” jawabku seraya membenarkan tubuh ku agar beralih posisi untuk duduk bersandar pada dinding kamarku kupandangi wajah temanku yang sekarang malah saling bertatap muka...

“jadi kamu tau kalo kamu jadi bahan uji nyali di permainan baru kita ‘’ tebak suparjo
“ iya ‘’ jawabku singkat layanya orang sakit akut...
“maafkan kami nyuk bukan maksud kami menjadikan kamu seperti ini , kami mengadakan permainan ini agar orang yang mempunyai nyali ciut menjadi pemberani “ pinta sudimin yang memasang wajah memalasnya...
“ sudah lah kalian tak usah merasa bersalah sebenarnya aku tak takut , hanya saja terlalu banyak makan gratis dari kalian dan sebenarnya perutku ini tak mampu menampung sehingga aku pingsan di pabrik itu , ya pada initinya aku tak pingsan akibat karena takut tapi karena aku kebanyakan makan” dalih ku yang tak mau di katai sebagi lelaki ciut nyali.
“benarkan dia memang menganut faham biarpun lemah dan penakut tetaplah sombong “ ucap ketiga temanku yang seperti padus yang bersamaan dan kompak yang mengundang gelak tawa ku dan para sahabatku ini sampai larut malam dirumahku...

Setelah peristiwa pingsanya aku di pabrik tua itu , ketiga temanku tak melanjutkan permainan uji nyali tersebut walaupun sudah ku bujuk untuk melanjutkan permainan tersebut akan tetapi mereka tetap kukuh tidak melanjutkanya di karnakan bukan hanya karena sebab aku pingsan akan tetapi karena memang benar di pabrik tua itu sangatlah angkar dan ada kemungkinan bayangan putih yang lewat di depaanku itu ada lah nyata hantu bukan lah imitasi dari perbuatan dusta 3 sahabatku...



Editor                      :  Tasel
Diterbitkan Oleh   :  Persma RI

Sejuta Pilu


Cerpen Karangan : Bunga Yunas
(Anggota Persma RI)
Diterbitkan Oleh : UKM PERSMA RI

Tak ada satupun sesal dan kesal yang membukit di hati....
Sungguh saat itu kepergiannya benar-benar ku ikhlaskan....
Walau hilangnya menjadi penderitaan yang sementara menetap....
Tapi, perasaan ini masih layak untuknya, Rasyid Ramadhany....
Mesir telah merebutnya dariku....
Persona yang begitu kudambakan..
kedatangannya lama tak pulang, berdiam diri sembari menuntut ilmu....
Menjauh dari hiruk-pikuk duniawi yang fana...

kini ia lebih dekat dengan sang pencipta....
Sosoknya yang amat religius, membuatku merasa hina dina....
Sebab dengan mengenalnya jiwa ini seperti terhempas jauh entah kemana....
Mbak Zara menghampiriku yang sedari tadi menungguku di dapur....
Bulan puasa kali ini Kami tidak ditemani oleh Mama dan Papa....
Mereka masih sibuk bekerja, pulang-pergi dari Indonesia-London....

“Riri, bantuin Mbak masak dong!”Mbak Zara mencolek pundakku....
Lamunanku masih memimpin....
Memikirkan seorang pria yang senyum....
Canda dan tawanya kekal di kehidupan, ia tak kunjung terlupakan....

“Mbak, Aku ingin bertemu Rasyid”celetukku.
Mbak Zara duduk di depanku, menatapku sambil tersenyum simpul....
“Rasa rindumu itu terlanjur membumi, jangan sampai rasa kangen itu... menjatuhkan Kamu ke lubang kesedihan. Rasyid itu pria baik Ri, bukan hanya Kamu yang menyukainya....Tapi semua wanita berharap memlikinya”Nasihat Mbak Zara terdengar meneduhkan...
Aku menunduk malu.... Seperti sedang dipermainkan oleh perasaan yang dipenuhi ketidakjelasaan ini....

“Lagi pula, usia kalian itu masih sangat muda....
Kamu dan Rasyid masih punya impian yang mesti diwujudkan....
Setahuku Rasyid itu tidak suka mempermainkan perasaan perempuan, Kamu itu nggak punya hubungan apa-apa sama Rasyid, kok merindukan dia...?Aneh!” ujarnya...
seketika membuat pikiranku buyar....
Kenapa Aku baru menyadarinya..?
Kalau Aku hanya sekedar mengenalnya lewat pertemuan singkat kala itu....
Dan dia meruntuhkan tiap tiang-tiang penyanggah rumah hatiku yang awalnya kokoh....

Ia memasuki rumah hati itu dengan salamanya yang menggema....
Langkahnya pelan mencairkan setiap hati yang beku....
Ia menebar senyumnya yang menggugah perasaan seorang "Riri Zavrada"
Dan ia datang tanpa diundang memberikan harapan-harapan yang terhitung jumlahnya....
Wahai semesta, esetetikanya pelik dimusnahkan....

“Mbak, Aku tak mau menyukainya lagi, ingin menghindarinya”ucapku lesu.
“Tak semua rasa rindu itu terobati dengan pertemuan. Kata Mama, do’a itu bisa menggetarkan hati seseorang. Nggak usah bertingkah bak seorang bocah, kalau dia nggak ngasih kabar, tetap berprasangka baik ya....
Dia juga punya kesibukan”Mbak Zara mengalihkan pandangannya ke pepohonan yang sedang asyik mengejekku.
“Mbak, Kamu pernah nggak kangen sama seseorang?”tanyaku polos.

“Sering... dan Kamu tahu?...
Semakin Kamu membiarkan rindu itu dipupuk, semakin tumbuh harapan sekaligus kemeranaan yang tak pasti.”
Kami tenggelam bersama percakapan mengenai rindu. Senja sore menemani Kami yang tak bisa lepas dari memori-memori lama yang terpendam. Merelakan diri dikutuk oleh asmara, berharap kepada manusia itu tidak enak. Banyak dukanya, sedikit sukanya.

“Mbak, bagaimana cara mengatasi kerinduan ini?”lanjutku...
“Mencari pelampiasan baru, seperti menulis, melukis, menyanyi, berkuda dan aktivitas lainnya. Kita selalu bersama dengan kemungkinan. Mungkin dengan dijauhkannya kalian, Tuhan punya rencana yang tak pernah terpikirkan oleh manusia.”
Mbak Zara bangkit dari tempat duduknya, Dia memelukku erat. Mulutnya berbisik.
“Laki-laki itu banyak yang jahat, yang baik itu datang ke rumah. Melamar Kamu Ri”Mbak Zara menepuk-nepuk punggungku....

Aku hanya bisa tersenyum, membayangkan jika hal itu terjadi. Ah, sudalah. Jangan keseringan berimajinasi yang tidak-tidak. Mari Kita berdamai dengan perasaan yang setengah berduka ini.

Dua minggu kemudian, di halaman sekolah. Semua murid melakukan beragam kegiatan olahraga, sembari melepas penat di rumah dan di kelas, mengeluarkan keringat itu bagus., tandanya Kita sehat.
Naya sengaja menyenggol bahuku, seperti biasa cewek satu ini suka banget nge-jahilin temannya.

“Eh, mau nawarin sesuatu nih?” Naya menatapku sambil senyum-senyum.
“Ikutan klub berkuda yuk!, hari sabtu sama minggu Kita kan libur.Mau nggak?”tawaran Naya sedikit memaksa.
Aku berpikir sejenak, ikut nggak ya?. Teringat saran dari Mbak Zara yang belum membasi.
“Oke, Aku setuju!”jawabku datar.
“Besok, jam 8 pagi sudah harus berada di lokasi.”
Aku mengangguk...
Ya, semoga saja dengan begini, Prihal sulit meniadakan itu akan teratasi dengan kegiatan bermanfaat dan menghibur.
Minggu pagi, Jakarta selalu ramai. Aku dan Naya sudah tiba di tempat latihan. Komunitas berkuda ini didominasi oleh kaum pria. Mereka sudah menyiapkan peralatan berkudanya, Ada seorang pria yang sedang menunggangi kuda, ia begitu lihai mengendalikan kudanya.

“Itu namanya Rasyid, Dia anggota lama dan Dia jagoan Kami”seorang wanita muda, dengan rambut hitam yang dikuncir menghampiriku dan Naya.
Jantungku berdetak kencang. Tiba-tiba Aku teringat Rasyid yang di sana.
“Nggak kelihatan wajahnya, Dia pakai masker, kayaknya sih Dia ganteng Ri”sambar Naya. Aku mencubit pipi Naya sebal dengan ocehannya.
Ah, nggak mungkin kalau itu Rasyid Ramadhany. Rasyid tidak setinggi itu dulu.
“Mau Aku panggilkan?”wanita itu pergi memanggil Rasyid kedua.
“Boleh, boleh banget!”Naya selalu saja ceria kalau urusan cowok.

Laki-laki itu berjalan, semakin dekat semakin jelas. Namun ia tak membuka masker penutup hidung dan mulutnya. Tunggu, langkahnya sama persis seperti Rasyid Ramadhany. Oh Semesta, jangan kejutkanku dengan kehadirannya. Kenapa jantungku berdetak kencang..?, tidak mungkin.

“Nay, Aku beli minum dulu ya”Aku langsung pergi, meninggalkan Naya yang bersiap-siap menyambut pria itu.
“Riri!”Suaranya tak asing di telingaku.
Kakiku menjadi kaku, kesusahan melangkah. Aku menghiraukan panggilan itu.

“Aku Rasyid Ramadhany dari Mesir, Kamu tidak lupa kan?”
Hatiku berteriak tak menyangka, kerapuhan ini menguat dalam hitungan detik.  Aku masih membelakanginya. Tangisan tersirat bersimbah di bawah naungan langit cerah hari ini.
“Maaf ya, lama tak jumpa. Aku masih sering memerhatikan tulisanmu di media sosial kok. Bagus dan sangat menyentuh. Ternyata, tinggimu tidak bertambah Ri. Aku kecewa!”ujarnya sambil tertawa meledek.
“Rasyid!, Gimana kabar Kamu?, sehat?”entah apalagi yang harus kukatakan selain menanyakan kondisinya.
“Alhamdulillah, senang bisa ketemu Kamu Ri. Bebanku jadi berkurang. Terima kasih ya karena Kamu sudah lahir ke bumi”tumben sekali, dia bisa se-puitis ini.

“Terima kasih juga Rasy, karena Kamu sering menegurku lewat caption-caption bijakmu di Instagram. Semoga penduduk bumi senantiasa menyukaimu tanpa ada secuil kebencian”Aku tersenyum, penuh kebahagiaan.

Rasyid datang dengan perubahan-perubahan barunya yang baik, Kami menghabiskan waktu untuk bermain kuda bersama, se-sekali ia mencoba bergurau. Namun candaanya itu tak memancingku untuk tertawa. Akhirnya jutaan pilu yang menumpuk ini, kian mengurang. Sebab, kerinduanku pada seseorang telah terobati. Kita adalah keterpisahan yang siap dipersatukan, itupun kalau semesta merestui. Ya, kalau tidak. Memang bukan rejeki bagi seorang Riri.


Editor : Tasel

Tumbuh


Karya : Bunga Yunas
(Anggota Persma RI) 

Kita telah melalui usia tujuh tahun
Kita melakukan Serangkain proses pembelajaran
Memakai seragam Merah-Putih
terlihat menggemaskan
Memasuki umur dua belas tahun
Kita adalah remaja yang dipenuhi dengan kelabilan
Mempunyai banyak cita-cita
Fase dimana khayal lepas dari hambatan
dan egoisme begitu menggebu membentuk kepribadian
Kadang Kita ingin cepat dewasa
Menghindari permasalahan
lari dari kenyataan
Kemudian Kita mengenal lawan jenis
Lalu Kita membuat suatu hubungan yang di dasari oleh cinta
Kita menyukai banyak lelaki
dan cinta itu begitu memusingkan
Membuat Kita lupa dengan semua pelajaran
Tapi disisi lain
Hari-hari Kita jadi lebih berwarna dan tidak membosankan
Ternyata Kita resmi menjadi kaum muda yang penuh kekuatan
Namun tetap menyadari bahwa Kita punya kelemahan

Selamat bertualang di dunia baru, menatap lagit biru, tanpa sendu.


Editor : Tasel