Cerpen Karangan : Bunga Yunas
(Anggota Persma RI)
Diterbitkan Oleh : UKM PERSMA RI
Tak ada satupun sesal dan kesal yang membukit di hati....
Sungguh saat itu kepergiannya benar-benar ku ikhlaskan....
Walau hilangnya menjadi penderitaan yang sementara menetap....
Tapi, perasaan ini masih layak untuknya, Rasyid Ramadhany....
Mesir telah merebutnya dariku....
Persona yang begitu kudambakan..
kedatangannya lama tak pulang, berdiam diri sembari menuntut ilmu....
Menjauh dari hiruk-pikuk duniawi yang fana...
kini ia lebih dekat dengan sang pencipta....
Sosoknya yang amat religius, membuatku merasa hina dina....
Sebab dengan mengenalnya jiwa ini seperti terhempas jauh entah kemana....
Mbak Zara menghampiriku yang sedari tadi menungguku di dapur....
Bulan puasa kali ini Kami tidak ditemani oleh Mama dan Papa....
Mereka masih sibuk bekerja, pulang-pergi dari Indonesia-London....
“Riri, bantuin Mbak masak dong!”Mbak Zara mencolek pundakku....
Lamunanku masih memimpin....
Memikirkan seorang pria yang senyum....
Canda dan tawanya kekal di kehidupan, ia tak kunjung terlupakan....
“Mbak, Aku ingin bertemu Rasyid”celetukku.
Mbak Zara duduk di depanku, menatapku sambil tersenyum simpul....
“Rasa rindumu itu terlanjur membumi, jangan sampai rasa kangen itu... menjatuhkan Kamu ke lubang kesedihan. Rasyid itu pria baik Ri, bukan hanya Kamu yang menyukainya....Tapi semua wanita berharap memlikinya”Nasihat Mbak Zara terdengar meneduhkan...
Aku menunduk malu.... Seperti sedang dipermainkan oleh perasaan yang dipenuhi ketidakjelasaan ini....
“Lagi pula, usia kalian itu masih sangat muda....
Kamu dan Rasyid masih punya impian yang mesti diwujudkan....
Setahuku Rasyid itu tidak suka mempermainkan perasaan perempuan, Kamu itu nggak punya hubungan apa-apa sama Rasyid, kok merindukan dia...?Aneh!” ujarnya...
seketika membuat pikiranku buyar....
Kenapa Aku baru menyadarinya..?
Kalau Aku hanya sekedar mengenalnya lewat pertemuan singkat kala itu....
Dan dia meruntuhkan tiap tiang-tiang penyanggah rumah hatiku yang awalnya kokoh....
Ia memasuki rumah hati itu dengan salamanya yang menggema....
Langkahnya pelan mencairkan setiap hati yang beku....
Ia menebar senyumnya yang menggugah perasaan seorang "Riri Zavrada"
Dan ia datang tanpa diundang memberikan harapan-harapan yang terhitung jumlahnya....
Wahai semesta, esetetikanya pelik dimusnahkan....
“Mbak, Aku tak mau menyukainya lagi, ingin menghindarinya”ucapku lesu.
“Tak semua rasa rindu itu terobati dengan pertemuan. Kata Mama, do’a itu bisa menggetarkan hati seseorang. Nggak usah bertingkah bak seorang bocah, kalau dia nggak ngasih kabar, tetap berprasangka baik ya....
Dia juga punya kesibukan”Mbak Zara mengalihkan pandangannya ke pepohonan yang sedang asyik mengejekku.
“Mbak, Kamu pernah nggak kangen sama seseorang?”tanyaku polos.
“Sering... dan Kamu tahu?...
Semakin Kamu membiarkan rindu itu dipupuk, semakin tumbuh harapan sekaligus kemeranaan yang tak pasti.”
Kami tenggelam bersama percakapan mengenai rindu. Senja sore menemani Kami yang tak bisa lepas dari memori-memori lama yang terpendam. Merelakan diri dikutuk oleh asmara, berharap kepada manusia itu tidak enak. Banyak dukanya, sedikit sukanya.
“Mbak, bagaimana cara mengatasi kerinduan ini?”lanjutku...
“Mencari pelampiasan baru, seperti menulis, melukis, menyanyi, berkuda dan aktivitas lainnya. Kita selalu bersama dengan kemungkinan. Mungkin dengan dijauhkannya kalian, Tuhan punya rencana yang tak pernah terpikirkan oleh manusia.”
Mbak Zara bangkit dari tempat duduknya, Dia memelukku erat. Mulutnya berbisik.
“Laki-laki itu banyak yang jahat, yang baik itu datang ke rumah. Melamar Kamu Ri”Mbak Zara menepuk-nepuk punggungku....
Aku hanya bisa tersenyum, membayangkan jika hal itu terjadi. Ah, sudalah. Jangan keseringan berimajinasi yang tidak-tidak. Mari Kita berdamai dengan perasaan yang setengah berduka ini.
Dua minggu kemudian, di halaman sekolah. Semua murid melakukan beragam kegiatan olahraga, sembari melepas penat di rumah dan di kelas, mengeluarkan keringat itu bagus., tandanya Kita sehat.
Naya sengaja menyenggol bahuku, seperti biasa cewek satu ini suka banget nge-jahilin temannya.
“Eh, mau nawarin sesuatu nih?” Naya menatapku sambil senyum-senyum.
“Ikutan klub berkuda yuk!, hari sabtu sama minggu Kita kan libur.Mau nggak?”tawaran Naya sedikit memaksa.
Aku berpikir sejenak, ikut nggak ya?. Teringat saran dari Mbak Zara yang belum membasi.
“Oke, Aku setuju!”jawabku datar.
“Besok, jam 8 pagi sudah harus berada di lokasi.”
Aku mengangguk...
Ya, semoga saja dengan begini, Prihal sulit meniadakan itu akan teratasi dengan kegiatan bermanfaat dan menghibur.
Minggu pagi, Jakarta selalu ramai. Aku dan Naya sudah tiba di tempat latihan. Komunitas berkuda ini didominasi oleh kaum pria. Mereka sudah menyiapkan peralatan berkudanya, Ada seorang pria yang sedang menunggangi kuda, ia begitu lihai mengendalikan kudanya.
“Itu namanya Rasyid, Dia anggota lama dan Dia jagoan Kami”seorang wanita muda, dengan rambut hitam yang dikuncir menghampiriku dan Naya.
Jantungku berdetak kencang. Tiba-tiba Aku teringat Rasyid yang di sana.
“Nggak kelihatan wajahnya, Dia pakai masker, kayaknya sih Dia ganteng Ri”sambar Naya. Aku mencubit pipi Naya sebal dengan ocehannya.
Ah, nggak mungkin kalau itu Rasyid Ramadhany. Rasyid tidak setinggi itu dulu.
“Mau Aku panggilkan?”wanita itu pergi memanggil Rasyid kedua.
“Boleh, boleh banget!”Naya selalu saja ceria kalau urusan cowok.
Laki-laki itu berjalan, semakin dekat semakin jelas. Namun ia tak membuka masker penutup hidung dan mulutnya. Tunggu, langkahnya sama persis seperti Rasyid Ramadhany. Oh Semesta, jangan kejutkanku dengan kehadirannya. Kenapa jantungku berdetak kencang..?, tidak mungkin.
“Nay, Aku beli minum dulu ya”Aku langsung pergi, meninggalkan Naya yang bersiap-siap menyambut pria itu.
“Riri!”Suaranya tak asing di telingaku.
Kakiku menjadi kaku, kesusahan melangkah. Aku menghiraukan panggilan itu.
“Aku Rasyid Ramadhany dari Mesir, Kamu tidak lupa kan?”
Hatiku berteriak tak menyangka, kerapuhan ini menguat dalam hitungan detik. Aku masih membelakanginya. Tangisan tersirat bersimbah di bawah naungan langit cerah hari ini.
“Maaf ya, lama tak jumpa. Aku masih sering memerhatikan tulisanmu di media sosial kok. Bagus dan sangat menyentuh. Ternyata, tinggimu tidak bertambah Ri. Aku kecewa!”ujarnya sambil tertawa meledek.
“Rasyid!, Gimana kabar Kamu?, sehat?”entah apalagi yang harus kukatakan selain menanyakan kondisinya.
“Alhamdulillah, senang bisa ketemu Kamu Ri. Bebanku jadi berkurang. Terima kasih ya karena Kamu sudah lahir ke bumi”tumben sekali, dia bisa se-puitis ini.
“Terima kasih juga Rasy, karena Kamu sering menegurku lewat caption-caption bijakmu di Instagram. Semoga penduduk bumi senantiasa menyukaimu tanpa ada secuil kebencian”Aku tersenyum, penuh kebahagiaan.
Rasyid datang dengan perubahan-perubahan barunya yang baik, Kami menghabiskan waktu untuk bermain kuda bersama, se-sekali ia mencoba bergurau. Namun candaanya itu tak memancingku untuk tertawa. Akhirnya jutaan pilu yang menumpuk ini, kian mengurang. Sebab, kerinduanku pada seseorang telah terobati. Kita adalah keterpisahan yang siap dipersatukan, itupun kalau semesta merestui. Ya, kalau tidak. Memang bukan rejeki bagi seorang Riri.
Editor : Tasel