Minggu, 06 Oktober 2019

Pabrik Tua


Cerpen Karangan : Ludfi Shofiatul Alia
(Anggota Ukm Persma RI) 

Hari ini adalah hari yang paling indah dalam sejarah hidupku...
Dimana perut dan mulutku tak henti untuk menguyah makanan gratis yang kudapat dari  beberapa sahabatku...
Dari sahabat ku yang ulang tahun , menang lomba , dan yang baru saja jadian...
Dan pada hari ini sekoalah ku free menjelang ulangan sekolah  yang akan di laksanakan senin besok...
Menurutku yang paling banyak menelaktirku  sahabat yang baru jadian...
Mungkin karena itu cinta pertamanya jadi sangatlah spesial dan dia juga anak orang kaya...

Jadi waktu dia bilang makan sepuasnya aku tak segan untuk makan sebanyak mungkin sampai sampai aku tak bisa berdiri... Wkwkwk...
Sunset yang indah kunikmati saat melangkah akan pulang kerumah kupegangi perutku layaknya orang sedang bunting 7 bulan...
Ketika diriku ini melawati sebuah pabrik tua yang lama di tutup...

Timbulah rencana yang sudah lama ku pendam bersama sahabatku dan baru sekarang aku akan mengutarakanya...
Dimana aku harus melanggar  petuah dari para sesepuh warga sekitar...
Bawasanya disana banyak penunggunya dan sekarang akan aku patahkan mitos itu jika memang tak ada hantu yang berintraksi ria didalam pabrik tersebut kepada sahabatku yang telah lebih dulu memeriksa pabrik tua itu....

“ apa-apaan dengan orang-orang sekitar sini  masa takut sama  setan , takut itu sama Allah . kalo pun takut dengan setan baca ayat kursi aja, kelarkan.” Aku pun berjalan masuk kedalam pabrik yang sudah lama menggugah rasa penasaranku seraya   mengusap hidung dengan gaya bruce leee... Hehe.

“ sudah kuduga bawasanya di dalam sini tidak ada apa-apa , hanya banyak mesin usam yang sudah tua “ langkahku berhenti saat mendengar gelak tawa di lantai atas pabrik yang membuat bulu ketek tegang dan kringat sebesar jagung bercucuran .tapi aku berusaha untuk berpikiran positif dan mencari sumber tawa tersebut yang terletak di gedung atas , yang di iringi dengan mulutku yang komat kamit membaca ayat kursi.
Blebettt........

“ya Allah , tadi itu apa bayangan putih melayang tanpa dosa di blakangku? “ Tanya ku yang kini tengah di banjiri akan rasa takut yang keterlaluan dan pantas mendapat lebel sebagai lelaki yang pecundang....
“ hihihihihi” tawa sangat nyaring kini terdengar jelas di belakangku , tawa tersebut tak asing lagi kudengar saat menoton serial film horor....

“ya ga salah lagi ini sepertinya mbak-mbak ber baju putih yang selalu berkeliaran di film horor “ dugaanku terhenti ketika semua mata pandanganku telihat buram dan gelap rasanya seperti akan menjelang sakaratul maut.

“blukkk” suara tubuhku yang terjatuh karena pingsan setelah mendengar suara tawa yang kuduga sebagai kuntilanak...
Aroma terapi menusuk hidungku yang kemudian membuatku terbangun dari frist pingsan ku ,  pincingan mata ku  untuk  melihat keaadaan sekitar nyaman dan tentram atau tidak , terliahat di sudut ruangan yang tak asing lagi yaitu kamarku berdirilah mantri desaku dan orang tua ku serta ketiga temanku yaitu suparjo , sudimin dan susanto...
Tengah menunggu bangun dan mantri yang memeriksaku dan setelah mendengar penjelasan dari mantri bawasanya diriku mengalami trauma, akibatnya aku  tak sadarkan diri  dan membuat badanku menjadi panas...

Orang tua ku mengatar mantri kedapan setelah menerima obat dan melakukan pemeriksaan terhadapku...
Tersisa ketiga sahabat ku yang masih  menertawakanku dengan kemampunya dan berbincang bincang tak jelas saat kudengar mungkin akibat dari pingsan membuat gangguan di panca indara ku termasuk pendenagarku ini...

“kenapa sikunyuk ini lemah sekali baru awal permainan sudah game over “ ucap suparjo yang membuatku mengurungkan niat untuk membuka  dan berdalih untuk mendengar lebih lanjut dari ucapan suparjo....
“sudah lah ini salah kita, jugaan kenapa kita harus menjadikan kunyuk sebagai bahan uji coba permainan uji nyali di pabrik tua itu , sudah tau dia itu sangat lah penakut dan tak mempunyai nyali sama sekali dan lemah “ ujar sudimin yang kini mencoba menambah aroma terapinya yang kurasa sudah memenuhi lubang hidung.

“sebaiknya kita tidak lagi meneruskan permainan uji nyali lagi yang membut sikunyuk ini menjadi pingsan , lihat saja dia pingsan saja masih dengan gaya so cool nya dan sepertinya sikunyuk ini menganut faham biar pun lemah dan penakut tetaplah sombong “  saran susanto yang masih mengejeku juga...
“khukk” suara batuk yang kutimbulkan untuk memberhentikan percakapan diantara sahabat sahabat ku ini menimbulkan banyak pertanyaan yang menumpuk.

“ nyuk , udah bangun juga kamu ? girang susanto yang sedari tadi mengompresi keningku dengan handuku.
“ahh tidak sebenarnya aku sesudah bangun sejak ada aroma terapi masuk kedalam hidungku” jawabku seraya membenarkan tubuh ku agar beralih posisi untuk duduk bersandar pada dinding kamarku kupandangi wajah temanku yang sekarang malah saling bertatap muka...

“jadi kamu tau kalo kamu jadi bahan uji nyali di permainan baru kita ‘’ tebak suparjo
“ iya ‘’ jawabku singkat layanya orang sakit akut...
“maafkan kami nyuk bukan maksud kami menjadikan kamu seperti ini , kami mengadakan permainan ini agar orang yang mempunyai nyali ciut menjadi pemberani “ pinta sudimin yang memasang wajah memalasnya...
“ sudah lah kalian tak usah merasa bersalah sebenarnya aku tak takut , hanya saja terlalu banyak makan gratis dari kalian dan sebenarnya perutku ini tak mampu menampung sehingga aku pingsan di pabrik itu , ya pada initinya aku tak pingsan akibat karena takut tapi karena aku kebanyakan makan” dalih ku yang tak mau di katai sebagi lelaki ciut nyali.
“benarkan dia memang menganut faham biarpun lemah dan penakut tetaplah sombong “ ucap ketiga temanku yang seperti padus yang bersamaan dan kompak yang mengundang gelak tawa ku dan para sahabatku ini sampai larut malam dirumahku...

Setelah peristiwa pingsanya aku di pabrik tua itu , ketiga temanku tak melanjutkan permainan uji nyali tersebut walaupun sudah ku bujuk untuk melanjutkan permainan tersebut akan tetapi mereka tetap kukuh tidak melanjutkanya di karnakan bukan hanya karena sebab aku pingsan akan tetapi karena memang benar di pabrik tua itu sangatlah angkar dan ada kemungkinan bayangan putih yang lewat di depaanku itu ada lah nyata hantu bukan lah imitasi dari perbuatan dusta 3 sahabatku...



Editor                      :  Tasel
Diterbitkan Oleh   :  Persma RI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar